1. TEORI GERAK SEJARAH
Hakikat teori gerak sejarah ialah suatu gerak yang tumbuh dan berkembang secara evolusi, karena menggambarkan peristiwa sejarah masa lampau secara kronologis. Urutan secara kronologis merupakan pokok teori untuk menggambarkan gerak sejarah.
Prof. Beerling dalam bukunya “ Filsafat dewasa ini I” mengatakan bahwa sejarah adalah cerita dari kemajuan. Yang menjadai masalah sekarang ialah faktor-faktor apakah yang menentukan gerak evolusi. Masalah ini menimbulkan berbagai teori.
1) Teori gerak sejarah bagi masyarakat yang bersahaja atau masyarakat primitif, evolusi ditentukan oleh kebudayaan dinamisme dan animisme. Pemujaan terhadap kekuasaan roh nenek moyang dan kekuatan alam ghaib menentukan evolusi manusia.
2) Dalam kebudayaan politeisme gerak sejarah ditentukan oleh dewa-dewa.
3) Dalam kebudayaan monoteisme maka gerak sejarahnya ditentukan oleh Tuhan
4) Gerak sejarah yang ditentukan oleh hukum alam (fatum) kadar atau takdir. Teori ini kemudian berkembang menjadi filsafat.
5) Determinisme yaitu hukum sejarah yang berjalan menurut hukum-hukum umum dan secara natural tidak bertentangan dengan kebiasaan di dalam alam.
6) Gerak sejarah yang ditentukan oleh manusia itu sendiri. Hanya oleh jiwa orang-orang besarlah yang menentukan sejarah
7) Gerak sejarah yang ditentukan oleh materi

Sejarah adalah medan perjuangan manusia dan cerita sejarah adalah epos perjuangan ke arah kemajuan. Dengan ilmu pengetahuan, taknik, filsafat alam sekitarnya diselidiki dengan semangat evolusi. Mitos evolusi menjadi sumber dinamika yang dahsyat dan mengeluarkan manusia dari alam rohaniah.
Evolusi berarti evolusi jasmaniah, evolusi kebendaan, evolusi duniawi, kefanaan, misalnya kemajuan teknik: kapal api, kereta api, pabirk, dsb. Gerak sejarah tidak menuju ke akhirat, tetapi ke arah kemajuan duniawi, maka dalam dunia yang seolah-olah tidak memerlukan Tuhan lagi itu, timbullah faham-faham baru yang berpedoman pada evolusi tak terbatas, diantaranya faham historical materialism atau economic determinism.
Dari bagan di bawah tampaklah betapa sukarnya untuk membicarakan masalah tersebut. Menurut Sanusi Pane (1955: 7) sejarah ialah perwujudan kehendak Tuhan bagi manusia dalam dunia. Mempelajari sejarah berarti berdaya upaya dengan semangat terbatas mengetahui kehendak Tuhan itu, upaya merasa, dengan terbatas, kehidupan mutlak, supaya sanggup dengan terbatas, hidup dan bekerja sebagai hamba Tuhan yang lebih insyaf. Pendapat Sanusi Pane didasarkan atas kepercayaan terhadap Tuhan. Mempelajari sejarah adalah berusaha mengetahui kehendak Tuhan.
Pendapat berbeda dikemukakan oleh Tan Malaka (1944: 5) bahwa setelah ilmu dan penelitian menjadi sempurna, setelah manusia mulai meninggalkan dogma agama, setelah manusia mencaji cerdas dan dapat memikirkan pergaulan hidup, pertentangan kelas dijadikan sebagai pengetahuan yang nyata. Dalam perjuangan untuk keadilan dan politik, manusia tidak membutuhkan atau mencari-cari Tuhan lagi, atau ayat-ayat kitab agama, tetapi langsung menuju sebab yang nyata yang merusakkan dan memperbaiki penghidupannya.
Menurut Tan Malaka, gerak sejarah berpangkal kepada sebab nyata yang merusakkan dan memperbaiki penghidupannya, yaitu ekonomi atau kekuatan-kekuatan produksi. Dua pendapat di atas menunjukkan bahwa masalah gerak sejarah tidak dapat dijawab dengan satu jawaban saja, tetapi dapat lebih dari satu jawaban .
R. Moh Ali dalam bukunya “Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia” 1983 menggambarkana gerak sejarah sebagai berikut:

Dari dua pendapat diatas adalah sebagi bukti, bahwa soal atau ,masalah kekuatan di belakang gerak sejarah tidak dapat dijawabdengan satu jawaban tertentu. Semua jawaban mungkin betul (relatif); suatu jawaban pasti (absolut) betul bagi orang yang mempercayainya.
Gerak sejarah ditandai dengan perubahan-perubahan yang terus berlangsung di dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.
Oleh karena sejarah membicarakan tentang perbuatan manusia masa silam, maka gerak sejarah pada umunya dianggap penyebabnya ialah manusia sendiri. Tetapi karena kadang-kadang pula usaha manusia tidak berhasil atau gagal, maka timbul pendapat bahwa disamping karena sebab manusia. Kekuatan di luar manusia, yakni Tuhan, dewa, nasib atau kadar.
Gerak sejarah disebabkan oleh manusia berjiwa besar seperti peranan pahlawan, baik pahlawan kemerdekaan dan kemanusiaan maupun pahlawan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Para nabi dimasukkan sebagai manusia berjiwa besar, kendati mereka menjalankan pekerjaan itu karena keyakinan menjalankan perintah Tuhan.
Gerak sejarah oleh khalayak banyak, biasanya dikenal dengan revolusi sosial, pada umunya menyangkut masalah keadilan persamaan dan kemerdekaan. Gerak sejarah jenis ini kurang mumi karena kekuatan khalayak, di dalamnya terdapat seseorang atau beberapa orang yang menggerakkan suatu peristiwa sejarah.
Gerak sejarah yang disebabkan oleh Tuhan, dewa atau oleh fatum dianut oleh ahli sejarah berdasarkan kepercayaan atau agama. Dalam agama Kristen dikenal adanya “rencana Allah kelak terlaksana” begitu pula dengan Islam “tidak terjadi sesuatu tanpa sebab, dan tidak ada kekuasaan yang lebih menentukan, kecuali Allah”. Herodotus (abad V sebelum masehi) dari Yunani menganggap bahwa segala kejadian atas diri manusia karena kehendak dewa dan diatas kekuatan dewa masih ada kekuatan lain lagi; fatum.

2. PENGERTIAN DASAR TENTANG GERAK SEJARAH
Untuk memudahkan tentang pangkal gerak sejarah, masalah itu harus dipandang sebagai masalah yang khusus. Bagaimana manusia memandang diri pribadinya? Sejarah adalah sejarah manusia; peran sejarah hanya manusia saja; penulis sejarah adalah manusia; peminat sejarah adalah manusia juga. Maka manusialah yang dipandang sebagai inti soal itu.
Oleh sebab itu dapatlah dipahami apabila manusia dipandang sebagai akibat dari pendapat manusia tentang dirinya, yaitu :
 Manusia bebas menentukan nasib sendiri, dengan istilah internasional otonom
 Manusia tidak bebas menentukan nasibnya, nasib manusia ditentukan oleh kekuatan diluar pribadinya; manusia disebut heteronom
Dari dua paham di atas, faham determinism adalah faham yang tertua.
Pada umunya manusia lebih condong menerima kekuatan di luar pribadinya daripada percaya bahwa segala sesuatu itu ditentukan oleh diri sendiri. Persoalan berkisar pada pertanyaan, siapakah yang menentukan nasibnya? Menurut keadaanya kepercayaan manusia tentang penentu nasibnya adalah:
 Alam sekitarnya dengan isinya
 Kekuatan x (tak dikenal)
 Tuhan
Ada beberapa jenis gerak sejarah, diantaranya adalah :
1) Sejarah Horisontal
Secara sederhana sejarah dalam perspektif ini bahwa suatu peristiwa sejarah merupakan sebuah proses yang berkelanjutan dan bergerak ke depan. Adapun jika dalam perjalanannya suatu peristiwa itu memiliki pasang surut maka itu adalah sebuah realitas dari tahapan yang akan di capai. Contohnya seperti periodisasi sejarah indonesia antara 1908, 1928, 1945, 1966, 1998, dan seterusnya. Pada setiap kurun waktu tersebut muncul peristiwa yang menunjang lahirnya sebuah fenomena sejarah.
2) Sejarah spiral atau siklus
Secara sederhana gerak sejarah ini memandang bahwa segala kejadian yang dialami oleh manusia adalah sebuah proses yang berulang-ulang. Artinya sebuah gerak sejarah yang terjadi pada masa kini bisa jadi adalah sebuah peristiwa yang telah terjadi pada masa sebelumnya. Meskipun pelakunya adalah orang yang berbeda namun memiliki esensi maupun kepentingan yang relatif sama.
3) Sejarah Berkelanjutan dan tidak berkelanjutan
Dalam perspektif sejarah ini adalah bahwa suatu peristiwa sejarah muncul karena adanya kesempatan dan perubahan. Artinya peristiwa sejarah bisa terjadi bilamana dalam geraknya ada kesempatan untuk merubah hal tersebut. Tapi bisa jadi dalam prosesnya untuk menjalankan peristiwa sejarah tersebut, akan hadir sebuah tantangan yang membuat seorang pelaku sejarah terpaksa maupun tidak terpaksa untuk mengubah cara berjalan sejarahnya tersebut.

3. PERAN MANUSIA DALAM GERAK SEJARAH
Manusia tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Manusia tanpa sejarah adalah khayal. Manusia dan sejarah adalah dwitunggal, manusia adalah subyek dan obyek sejarah. Sejarah adalah pengalaman manusia dan ingatan tentang pengalaman-pengalaman yang diceritakan. Peran manusia dalam sejarah ialah menciptakan sejarah, karena ia yang membuat pengalaman menjadi sejarah. Ia adalah penutur sejarah, yang membuat cerita sejarah.
Sejarah memang luas artinya, yaitu pengalaman manusia yang dihimpun sejak zaman purbakala. Manusia tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan melepaskan diri dari sejarah. Manusia dibentuk oleh sejarah dan manusia membentuk sejarah. Manusia adalah ciptaan sejarah dan ia mempunyai batas kemungkinan untuk menciptakan sejarah baru.
Umumnya hanya beberapa manusia saja yang disebut dalam sejarah. Apabila persoalan ini dipikirkan dengan lebih mendalam, tentu dipersoalkan sebabnya. Soal seperti itu tidak dapat dicarikan pemecahan absolut, yaitu tidak hanya diberi satu jawaban yang dapat diterima dan memuaskan semua orang. Jawabannya bersifat relatif, jawaban lain mungkin dibenarkan juga.
Manusia adalah subyek dan obyek sejarah itu sendiri. Dipandang sebagi subyek dalam kalimat/merupakan pokok kalimat “aku” yang sedang melakukan suatu kegiatan, atau “aku” yang sedang dalam keadaan memahami sesuatu obyek tertentu. Dipandang sebagai obyek atau dalam kalimat keterangan penderita, atau “aku” yang bersifat pasif, atau dijadikan obyek pemahaman, tau yang dalam keadaan yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan lain. Namun apabila diungkapkan dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa, dalam keadaan yang bagaimanapun seorang manusia tidak akan pernah dapat menjadikan dirinya sendiri sebagai obyek sepenuhnya, karena dalam keadaan yang bagaimanapun manusia tetap merupakan subyek.
Meskipun subyek dan obyek berhubungan, namun acapkali orang mempertentangkannya. Ada dua orang pemikir yang secara khusus membicarakan subyek dari manusia (manusia dalam fungsinya sebagai subyek), yaitu Immanuel Kant (1724-1804) dan Edmund Hasserl (1859-1938). Kedua tojoh ini berkata “ yang bersifat transendental” mengandung pengertian sebagai syaraf untuk. Dikatakan demikian, karena ia dapat menempatkan dirinya diatas hal-hal yang bersifat alami. Secara demikian ia dapat menjangkau hal-hal yang berada di luar batas hal-hal yang bersifat alami.
Bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk merenungkan, memikirkan secara mendalam serta melakukan penalaran terhadap keadaan saling berhubungan yang terdapat diantara peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang ditunjukkan dengan menggunakan perkataan akalatau manusia dapat mengadaklan pemilihan antara yang baik dan yang buruk, serta bertingkah laku sesuai dengan norma-norma yang ada
Manusia pada dasarnya tidak bebas, tidak otonom dalam arti luas. Semua perubahan terjadi tanpa persetujuan manusia, manusia hanya dapat mempercepat jalan gerak sejarah dan tidak dapat mengubah atau menahan gerak sejarah. Kebebasan manusia sangat terbatas oleh keharusan ekonomi. Gerak sejarah tidak memerlukan Tuhan, tidak memerlukan fatum, tidak memerlukan manusia agar dapat terlaksana. Sejarah berlangsung dengan sendirinya, yaitu karena pertentangan kelas. Gerak sejarah bersifat mekanis, seperti jam tangan yang setelah diputar berjalan dengan sendirinya, manusia menjadi alat dari dinamika ekonomi.
Jiwa dari teori-teori sejarah beranggapan bahwa sejarah itu merupakan suatu gerak yang tumbuh dan berkembang secara evolusi atau perubahan secara alami. Menurut Muthahhari, pengertian evolusi secara sederhana dapat diartikan sebagai kemajuan dan transformasi. Secara terminologi oleh sebagian orang diartikan sebagai suatu proses yang di dalamnya terdapat suatu proses pelipatgandaan bagian-bagian yang diikuti oleh pembagian yang ditandai oleh suatu gerakan dari homogenitas ke arah heterogenitas.
Dalam proses evolusi sejarah, peran manusia sangat menentukan sekali. Bahkan, manusia menjadi inti masalah dari gerak sejarah itu sendiri. Oleh karena manusia eksistensinya begitu kompleks, maka para sejarawan berbeda pendapat dalam menentukan gerak sejarah. Secara garis besar dan ringkas konsepsi gerak sejarah dapat diterangkan sebagai berikut.
a) Pandangan sosial yang individualistis cenderung pada anggapan bahwa kerja individulah yang menggerakkan perkembangan umat manusia. Pendapat ini menitikberatkan pada karya pribadi yang menggerakkan atau mendorong gerak perkembangan masyarakat. Individu-individu yang berbuat dan berlaku serta mencipta kebudayaan, sedangkan masyarakat merupakan latar belakangnya dan bersifat abstrak.
b) Gerak sejarah merupakan kesadaran umat manusia. Manusia adalah makhluk budaya. Pikiran dan kesadaran manusia berkembang dari tingkat yang bersahaja ke tingkat yang tinggi. Perkembangan pikiran dan kesatuan manusia ini menjadi tenaga penggerak kemajuan manusia.
c) Pengaruh alam terhadap kehidupan manusia. Perbedaan antara kebudayaan dapat dilihat dari segi perbedaan tempat. Cara hidup ini membentuk corak kebudayaan. Gerak sejarah dipersamakan dengan gerak kebudayaan.
d) Kekuatan penggerak sejarah berada dalam bangsa. Perbedaan ruhani ataupun watak di antara bangsa-bangsa menimbulkan perbedaan cara berpikir dan perasaan, begitu pula tingkah-laku dan perbuatan. Hasrat yang ada pada suatu bangsa menimbulkan daya cipta, hasrat untuk mengubah dan mengambil alih dari bangsa lain. Aliran ini membuka jalan bagi Cauvinisme.
e) Teori evolusionisme atau Darwinisme. Darwin berpendapat bahwa setiap makhluk itu berkembang dan berubah secara alami dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang sempurna sesuai dengan alam lingkungannya. Proses perubahan ini adalah proses penyesuaian diri, baik yang bersifat ruhani maupun jasmaninya. Perubahan ini dapat diterapkan dalam perkembangan bangsa dan negara.
f) Teori historis materialisme. Teori ini berdasarkan pada paham determinisme ekonomi. Gerak sejarah ditentukan oleh cara-cara menghasilkan barang untuk keperluan masyarakat. Cara produksi ini menentukan perubahan-perubahan dalam masyarakat yang bertentangan satu sama lain. Tujuan gerak sejarah menurut paham ini adalah mewujudkan masyarakat tanpa pertentangan kelas.

Penjelasan tentang peran manusia dalam menggerakkan sejarah tidak hanya bersifat umum, tetapi menjelaskan secara lebih rinci terutama tentang kecenderungan yang dimiliki manusia. Meskipun manusia memiliki seluruh kecenderungan ke arah nafsu, hal-hal inderawi, korupsi dan kejahatan, wujudnya (manusia) dianugerahi suatu percikan suci yang secara esensial menentang kejahatan, pertumpahan darah, kepalsuan, korupsi, kehinaan, degradasi, dan penghinaan serta penekanan dan kezaliman. Manusia memiliki kecenderungan kepada kesempurnaan.
Ada kecenderungan lain pada diri manusia selain dari kecenderungan pada perbuatan baik, yaitu kecenderungan untuk tetap hidup, menghilangkan rasa lapar, kecenderungan pada makanan dan kelezatan, kecenderungan seksual, kecenderungan pada seni dan keindahan, serta kecenderungan pada ilmu pengetahuan.
Kecenderungan yang beragam tersebut, semuanya dapat dijadikan sebagai motor penggerak. Alasannya, dalam realitas kehidupan manusia, segala macam bentuk pertentangan, perselisihan, dan tidak adanya keserasian bersumber dari satu kenyataan bahwa dalam diri manusia tidak hanya satu motor penggerak. Jika memang benar dalam masyarakat hanya ada satu motor penggerak, maka mustahil akan timbul segala macam bentuk pertentangan dan perselisihan dalam masyarakat. Penyebab paling mendasar bagi timbulnya pertentangan dan perselisihan karena berbagai naluri dalam diri manusia selalu berperang satu sama lain.
Penjelasan tentang manusia sebagai penggerak sejarah tidak hanya dilihat dari setting individual yang terpisah, melainkan juga dari sisi masyarakat. Dibedakan secara jelas tindakan individu dengan tindakan kolektif. Tindakan individu mengandung dua dimensi (sebab aktif dan sebab material), sedangkan tindakan kolektif mengandung tiga dimensi (sebab aktif, material, dan sebab akhir).

4. SIFAT GERAK SEJARAH
Teori-teori yang memberikan arah dan tujuan kepada gerak sejarah dapat disimpulkan demikian:
 Tanpa arah dan tujuan : seperti yang terdapat dalam alam fikiran Yunani berdasarkan hukum fatum; teori ini kemudian diperluas dan diperdalam oleh O. Spengler. Gerak sejarah berputar-putar, berulang-ulang dan tidak terdapat suatu yang baru. Tiap kejadian atau peristiwa pasti akan terjadi lagi seperti apa yang sudah
 Pelaksanaan kehendak Tuhan : gerak sejarah ditentukan oleh Tuhan dan memuja kearah kesempurnaan manusia, menurut kehendak Tuhan. Manusia hanya menerima ketentuan itu dengan tidak dapat merubah nasibnya.
 Bahwa ikhtiar, usaha dan perjuangan manusia dapat menghasilkan perubahan dalam nasib yang sudah fitentukan oleh Tuhan. Maka gerak sejarah merupakan perseimbangan antara kehendak Tuhan dengan usaha manusia.
 Evolusi dengan kemajuan yang tidak terbatas : gerak sejarah membawa manusia setingkat demi setingkat terus kearah kemajuan. Dengan riang gembira manusia melakukan gerak sejarah dengan penuh harapan akan mengalami kemajuan yang tidak terhingga. Alam semesta harus dapat dikuasai oleh manusia. Semakin meningkat, semakin meluas dikuasai oleh manusia dan makin berkuasa pula ia.
 Disamping gerak evolusi terdapat faham liberal historial materialism. Yang menentukan masyarakat tanpa kelas adalah tujuan gerak sejarah. Manusia tidak berkelas itu merupakan muara dari gerak sejarah setelah melalui masa kapitalis.
 Reaksi terhadap faham evolusi menghasilkan beberapa aliran baru, yaitu:
a) Aliran menuju ketuhanan seperti faham Toynbee, bahwa gerak sejarah itu akan sampai pada masa bahagia apabila manusia menerima Tuhan serta kehendak Tuhan sebagai dasar perjuangannya.
b) Aliran irama gerak sejarah menurut Sorokin yang menyatakan bahwa gerak sejarah tidak bertujuan apa-apa dan bahwa gerak itu hanya menunjukkan datang-lenyapnya atau berganti-gantinya corak; ideational, sensate dan idealistic
c) Aliran kemanusiaan, yaitu suatu aliran yang sangat luas dan berpusatkan pendapat mutlak bahwa manusialah yang terpenting di dunia ini. Gerak sejarah adalah perjuangan manusia untuk mencapai kemajuan yang setinggi mungkin.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan secara ringkas bahwa:
 dasar mutlak gerak sejarah adalah manusia
 b. isi gerak sejarah adalah pengalaman kehidupan manusia
 tujuannya ialah manusia sempurna dalam arti yang luas, yaitu sempurna sebagai manusia fatum, sebagai manusia bertuhan, manusia hitorical materialism dan manusia amr.
 pokok dasar gerak sejarah adalah masalah kemanusiaan, apakah manusia itu, apakah tujuannya, dimanakah letak batas-batas kemungkinannya?
Demikianlah sifat gerak sejarah sebagai daya penggerak manusia untuk menciptakan dunia baru yang bersifat positif dan optimistis. Manusia mampu dan dapat mengubah dunia serta menentukan nasibnya sendiri.

DAFTAR REFERENSI :
Rustam E. Tamburaka. 1999. Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Filsafat Sejarah dan IPTEK. Rineka Cipta : Jakarta
Hugiono dan Poerwantara. 1992. Pengantar Ilmu Sejarah. Rineka Cipta : Jakarta
Soedjono Soemargono. 2000. Berfikir Secara Kefilsafatan. Nur Cahaya : Yogyakarta
http://serbasejarah.wordpress.com/2008/12/17/filsafat-sejarah-menurut-murtadha-muthahhari-bagian-2/ (diakses tanggal 29 April 2011)
http://santgreat.wordpress.com/ (diakses tanggal 29 April 2011)
http://cerminsejarah.blogspot.com/2009/11/perspektif-gerak-sejarah.html (diakses tanggal 29 April 2011)