A. Kondisi Hubungan Amerika Serikat dan Irak Sebelum Terjadinya Penyerangan Tahun 2003

Setelah Perang dingin berakhir dengan runtuhnya Uni Soviet sehingga muncullah Amerika Serikat sebagi satu-satunya super power dunia, Amerika Serikat berusah untuk mengicar daerah wilayah Timur Tengah. Awal intervensi Amerika Serikat dimulai ketika terlibat dalam perang teluk yang melibatkan antara Irak dengan Kuwait. Dalam perkembangan konflik antara Irak-Kuwait ini menjadi konflik Irak dan Amerika Serikat.

Akibat invasi Irak ke Kuwait tersebut, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat pada tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990. Amerika Serikat mengirimkan bantuan pasukannya ke Arab Saudi yang disusul oleh negara-negara lain, baik negara-negara Arab kecuali Syria, Libya dan Yordania serta Palestina. Kemudian datang pula bantuan militer Eropa khususnya Eropa Barat (Inggris, Perancis, dan Jerman Barat) serta beberapa kawasan di kawasan Asia. (Ahmad Iqbal, 2010 : 172-173)

Selanjutnya invasi dan aneksasi Irak atas kuwait berkembang menjadi konflik terbuka antara Irak dan Amerika Serikat. Tepatnya hanya karena harga diri Saddam Hussein dan George W. Bush, perang teluk 2 tak dapat dihindarkan. Ini disebakan karena secar tidak langsung perang teluk 2 mengancam kepentingan Amerika Serikat menginggat ladang minyak di Kuwait yang setiap hari mengalirkan dolar ke Amerika Serikat diserobot Irak. Oleh karena itu Amerika Serikat merancang resolusi dan dengan sengala kekuatan berupaya meminta pengesahan Dewan Keamanan PBB untuk mengusir dan melumpuhkan militer Irak. Alasan yang dikemukanan Amerika Serikat, bahwa Irak telah melanggar hukuminetrnasional dan hak rakyat Kuwait untuk bernegara harus dipulihakan. Akhirnya DK PBB mengesahkan 12 resolusi mulai dari kecaman. Pengerahan pasukan multinasional, blokade ekonomi sampai persetujuan penggunaan senjata militer. Resolusi ini tidak mengherankan menginggat selama ini PBB telah menjadi alat hegemoni AS.

Selama Perang Teluk I memang Saddam mendapat bantuan ekonomi dan militer besar-besaran dari Amerika Serikat dan juga Uni Soviet, Pernais dan Inggris. Tetapi bantuan itu semata-mata karena khawatir terhadap ancaman revolusi Islam rezim Khomeini. Karena itu bagi Amerika Serikat dan sekutu dari Barat dan Arab kemungkinan kekalahan Baghdad pada Perang irak-Iran harus dicegat sekuat tenaga. (Nur Ika Hening Wijayanti, 2006 : 65 , Skripsi)

Dukungan Amerika Serikat terhadap Irak berbalik ketika Irak berbalik ketika irak menganggu kepentingan Amerika Serikat. Lagi pula dukungan yang diberikan Amerika Serikata bersifat semu, karena lebih memperhantikan kepentingannya daripada membantu Irak. Maka untuk membela kepentingan pula pada 17 Januari 1991 tentara multinasional yang dipelopori Amerika Serikat melakukan penyerangan terhadap Arab Saudi yang berbatasan dengan Irak.

Pasca pembebasan Kuwait dari Irak, telah mengubah prinsip dan cara pandang secara mendasar, bukan hanya di tatanan GCC tetapi juga di tingkat Arab secara keseluruhan. Invasi Irak ke Kuwait itu telah mengantarkan terbentuknya koalisi internasional di bawah pimpinan AS yang berhasil membebaskan Kuwait dari Irak. Dan semakin kuatnya pengaruh As dalam kawasan Teluk baik dari segi militer, politik maupun ekonomi. Sejumlah negara Teluk bahkan menandatangani kesepakatan keamanan dengan AS. (Mustafa Abd. Rahman, 2003 : 108)

Setelah Perang Teluk II yang menghancurkan infrastruktur Irak, Amerika Serikat masih terus bernafsu melakukan penyerangan terhadap Irak. Pada 16 Desember 1998, Amerika Serikat di dukung Inggris melancarkan sernagan udara 4 hari atas Irak. Serangan ini ditujukan kepada perlengkapan militer dan industri Irak. Serangan dilakukan karena Saddam telah mengusir Tim Pemeriksa Nuklir PBB, UNSCOM (United Nations Special Commision). Serangan ini dinamakan Operasi Serigala Gurun yang merupakan lanjutan dari Operasi Badai Gurun pada Perang teluk II tahun 1991. (Nur Ika Hening Wijayanti, 2006 : 66, Skripsi)

Serangan Amerika Serikat terhadap Irak telah mebuka kedok siapa sebenarnya Amerika Seriakt, terutama dalam konteks politik Timur Tengah. Semakin jelas bahwa kepentingan politik luar negeri Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah adalah Israel dan minyak. Faktor Israel berkaitan erat dengan kuatnya lobi Yahudi dalam politik domesti Amerika Serikat. Oleh sebab itu, apapun yang diperbuat Israel tidak akan ditentang oleh Amerika Serikat. Bahkan Amerika Serikat akan menentang setiap usaha menghukum pelanggaran yang dilakukan Israel terhadap norma-norma hubungan internasional. Faktor minyak memang sangat penting bagi Amerika Serikat yang memiliki kebutuhan konsumsi minyak sangat besar. Untuk itu Amerika Serikat selalu berusaha untuk menguasai negara-negara yang kaya minyak termasuk Irak.

Dari kasus pertengkaran mulut Libya-Arab Saudi, Kuwait-Irak, dan penolakan Kuwait-Qatar atas rekomendasi KTM Liga Arab di Cairo, terkuak betapa soal kehadiran AS di kawasan Teluk telah mebuyarkan sistem bangunan hubungan sesama Arab yang berpijak pada semnagat solidaritas dengan berdasarkan pada persamaan etnis, budaya, bahasa, agama dan latar belakang sejarah. Lebih ironis lagi hilangnya solidaritas tersebut justru terjadi tatkala bangsa Arab sangat membutuhkannya. Itulah saat-saat ketika rakyat palestina setiap hari dibombardir oleh pasukan Israel dan rakyat Irak mendapat giliran pula dibobardir pasukan AS dan sekutunya. (Mustafa Abd. Rahman, 2003 : 110-111)

B. Latar Belakang Serangan Amerika Serikat ke Irak Tahun 2003

Rencana untuk menyingkirkan Saddam Hussein yang dianggap sebagai ancaman telah muncul jauh sebelum Perang Teluk III dimulai. Sejumlah dokumen mengungkapkan bahwa niat untuk menyingkirkan Saddam sudah lama menjadi cita-cita para pemimpin Amerika Serikat.

Tragedi 11 September 2011 menjadi titik tolak dalam usaha menggulingkan rezim Saddam Hussein. Tragedi ini merupakan titik awal kebijakan baru, baik kebijakan luar negeri maupun pertahanan AS. Beberapa kabinet Bush terutama Wolfowitz menyarankan agar Amerika Serikat menagnut kebijakan preemptive terhadap Irak dan juga negara-negara lain. Dari sini lahir “Doktrin Bush” yang digunakan sebagai dasar dan landasan utama dalam kampanye perang melawan terorisme dan kebijakan preemptive. Tragedi ini juga merupakan pemicu penyerangan AS terhadap Irak yang sebelumnya menyerang Afghanistan. Pemerintah Bush memvonis bahwa Irak memiliki peran dalam serangan teroris 11 September 2001 itu. (Sumargono, 2010 : 68, Skripsi)

Pidato kenegaraan Presiden Bush pada 20 Januari 2002 dan lawatan wakil Presiden Dick Cheney ke Timur Tengah bulan Maret 2002 , merupakan titik balik sejarah baru dalam konteks konflik AS-Irak , pasca tragedi 11 September 2001 di AS. Semakin transparan untuk mendongkel kekuasaan Presiden Saddam Hussein di Baghdad dalam aksi serangannya ke Irak. Konflik AS-Irak yang sudah memasuki satu dasawarsa memasuki babak baru pasca tragedi 11 September tersebut. (Mustafa Abd. Rahman, 2003 : 35)

Dendam kesumat Bush terhadap Saddam sudah tak bisa dibendung lagi. Saddam dan Irak digambarkan sebagai “Poros setan” (axis of evil). Pada September 2002, Bush memaksa PBB mengeluarkan resolusi terhadap Irak atau ia mengambil tindakan dengan caranya sendiri. Bush telah mengetuk Palu untuk menumbangkan Saddam dari kekuasaannya. Agenda sudah dibuat jauh hari sebelumnya, strategi disusun, personil militer disiapkan. Bendera perang segera dikibarkan. (NS Mahmud dkk, 2007 : 31)

Presiden Bush dalam pidatonya Selasa, 8 Oktober 2002 berjanji akan membangun kembali negeri Irak dan menjaga kesatuan teritorial Irak. Janji Bush tersebut dinilai sangat politis untuk menghapus kecemasan para pemimpin Arab akan tercerai-beraninya Irak pasca Saddam Hussein. Sebelum itu, para pemimpin Arab menolak serangan AS ke Irak karena khawatir kesatuan teritorial Irak terpecah antara Kurdi di Irak Utara, Sunni di Irak Tengah, dan Syiah di Irak Selatan.

Kubu loyalitas Yahudi di Washington ingin menggunakan momentum serangan AS ke Irak untuk menaklukkan Palestina serta memaksakan syarat-syarat perdaamaian yang menguntungkan Israel dan AS, menghancurkan kekuatan Hizbullah di Lebanon, dan meminimalisisir pengaruh Suriah di Lebanon dan dunia Arab. (Mustafa Abd. Rahman, 2003 : 47)

Penyerangan AS terhadap irak ini sama sekali tidak berdasar. Karena terbukti dari serangkaian investigasi yang dilakukan oleh dinas rahasi AS, menyimnpulkan bahwa Irak tidak terlibat dalam serangan 11 September 2001. Bukti ini diperkuat dengan laporan John Scarlet, Ketua Komite Intelijen baersama Inggris yang menyatakan bahwa tidak ada bukti kaitan Baghdad dengan serangan 11 September maupun jaringan al-Qaidah. Namun Bush tetap berkeingginan untuk menggemppur Irak meskipun mendapat tentangan pula dari regional dalam negeri AS dan dunia internasional.

Atmosfer politik pada awal Oktober 2002 semakin menunjukkan aksi penyerangan AS atas Irak sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Masalah yang tersiksa hanyalah soal taktik da pemilihan waktu penyerangan saja. Mayoritas anggota Konggres AS dalam voting, jumat 11 Oktober 2002 menghasilkan suara 296-133 setuju memberi wewenang terhadap Bush untuk melaksanakan serangannya ke Irak jika diperlukan, dalam upaya untuk menghancurkan senjata pemusnah massal dan kemungkinan menumbangkan kekuasaan Saddam Hussein. Keputusan konggres ini melengkapi pidato Bush pada Selasa, 8 Oktober 2002 yang melukiskan Saddam Hussein sebagai tirani kriminal, diktataor pembunuh dan murid Stalin. Dalam pidato itu, Bush mengungkapkan hasil penyelidikan intelijen AS dan Inggris melaporkan bahwa Irak memulai lagi memproduksi senjata pemusnah massal. Bush kemudian menegaskan kembali Saddam Hussein harus melucuti semua senjata itu, jika tidak AS dan sekutunya akan melakukannya. (Mustafa Abd. Rahman, 2003 : 41-42)

Bagi AS konflik senjata dengan Irak pada tahun 2003, ada tiga tujuan yaitu : AS ingin menghancurkan senjata pemusnah massal, menyingkirkan ancaman teroris internasional dan membebaskan rakyat Irak dari penindasan rezim Saddam Hussein dengan cara memulihkan demokrasi di Irak.

Dari tiga alasan tentang masalah Irak yang harus diselesaikan dengan cara AS ternyata hanya kebohongan, yaitu :

 Agresi AS ke Irak untuk memusnahkan senjata pemusnah massal adalah upaya AS untuk membohongi masyarakat internasional. Bush mengatakan bahwa Irak mempunyai senjata pemusnah masal (Weapon of Mass Destruction) yang berupa : senjata kimia seperti mostar yang dapat menyebabkan kulit melepuh, tabun dan sarin yang dapat menyerang syaraf, senjata biologi seperti botulinum yang dapat meracuni dan mencekik orang, bacillus antraxis yang dapat menyebabkan penyakit antrax, senjata nuklir dan rudal scud yang mempunyai jangkauan 900 kilometer untuk meluncurkan senjata-senjata tersebut. Kenyataannya Irak memang pernah mengembangkan senjata pemusnah massal sebagimana disebutkan oleh Bush, tetapi setelah Perang Teluk Iitahun 1991 kemampuan itu telah dihancurkan oleh PBB.

Serangan AS ke Irak dengan alasan pemusnahan senjata massal tidak masuk akal dan hanya merupakan akal-akalan dari pihak AS, karena bila AS memang ingin menghancurkan senjata itu, Presiden Bush tidak mengerahkan semua kekuatan militernya. AS hanya mengerahkan 230.000 dan 45.000 personilnya ke Irak. (Sumargono, 2010 : 51, Skripsi)

Baghdad saat itu cukup memberi sikap positif menghadapi ancaman AS, seperti kesediannya tanpa syarat menerima tim inspeksi PBB, termasuk untuk pertama kalinya menyetujui pemeriksaan istana-istana Presiden yang sebelumnya ditolak. Sikap Irak ini membantu menggugurkan atau setidaknya melemahkan kedok AS dan Inggris untuk menyerang Irak dan mendongkel rezim Saddam Hussein. Sikap Irak tersebut juga membantu negara-negara Arab, Rusia, dan Perancis yang saat itu selalu menolak ancaman serangan militer AS dan Inggris. (Mustafa Abd. Rahman, 2003 : 71)

 Menggempur Irak atas nama memerangi terorisme yang didengunkan AS tidak dapat diterima begitu saja. Tudingan yang mengatakan bhawa adanya hubungan dengan al-Qaidah, organisasi yang sangat dibenci sekaligus ditakuti AS sangat tidak masuk akal. Di satu sisi al-Qaidah adalah organisasi yang ingin menggulingkan pemerintahan perpaham liberal maupun sekuler, sementara Partai Baath pimpinan Saddam Hussein tidak memiliki paham fundamentalisme seperti halnya al-Qaidah. Bahkan rezim Saddam Hussein sendiri termasuk yang harus dihancurkan al-Qaidah karena berseberangan paham.

 Klaim Washington bahwa penggulingan Saddam Hussein dimaksudkan untuk menyelamatkan rakyat Irak dari pemerintah yang benar-benar demokratis jugacacat dari segi hukum. Baik PBB maupun negara di dunia tidak ada yang memberi legitimasi AS untuk ikut campur urusan dalam negara lain. Dalam kasus Irak, apapun sistem yang dan akan diterapkan di negara itu, demokrasi atau monarki, maka semua itu hasilnya menjadi hak rakyat Irak untuk menentukannya. Di Irak meskipun AS menyatakan Saddam Hussein sebagai sosok diktator, tetapi rakyat Irak mengelu-elukan Saddam Hussein sebagai sosok yang berani mempertahankan kedaulatan Irak dari serbuan AS dan sekutunya.

Namun faktor minyak selalu menjadi isu sentral dan senantiasa di lihat sebagai salah satu pemicu konflik di Timur Tengah, tak terkecuali pula pada konflik AS-Irak. Sejumlah pejabat Irak semacam deputi PM Tareq Aziz dan wakil Presiden Taha Yasin Ramadhan secara terang-terangan menuduh AS ingin menguasai sumur-sumur minyak Irak yang merupakan terbesar kedua setelah Arab Saudi.

Tuduhan pejabat Irak tersebut tampaknya memang tidak mengada-ada. AS sendiri mulai memberi perhatian pada minyak di Timur Tengah sejak 50 tahun lalu, yaitu ketika konggres AS saat itu menggelar sidang khusus untuk mengeluarkan keputusan tentang jumlah minyak yang harus diimpor AS setiap bulannya. Perhatian AS pada minyak di Timur Tengah semakin besar setelah aksi boikot minyak Arab menyusul Perang Arab-Israel 1973. (Mustafa Abd. Rahman, 2003 : 57)

Penyerangan AS ke Irak

Meskipun Amerika Serikat sudah menyatakan bahwa perang berhenti, ternyata ambisi AS untuk menduduki Irak masih berlanjut. Pada tahun 2003, di bawah pimpinan Bush Junior, As kembali menyerbu Irak. Penyerbuan ini dikenal dengan okupasi Irak, Perang Teluk II, Perang teluk III atau oleh AS disebut Operasi Pembebasan Irak. (Ahmad Iqbal, 2010 : 175)

Meskipun banyak tentangan dan protes dari dunia internasional, AS tetap pada pendiriannya untuk menginvasi Irak. Alasan-alasan yang dikemukakan AS terhadap dunia internasional sangat lemah dan terkesan mengada-ada. Sikap kerasnya di tengah protes internasional dan regional, menunjukkan adanya tujuan tertentu dibalik sikap keras yang ditunjukkan tersebut.

Selepas subuh, Kamis pagi 20 Maret 2003, AS dan sekutunya meluncurkan sekitar 40 peluru kendali (rudal) Tomahawk dari Yeluk Persia dan Laut Merah. Dari tembakan rudal itu, langit Bgahdad terbakar. Nilai dari 40 rudal itu ditaksir sekitar Rp.1,5 triliun. Pada hari kedua sekitar 100 rudal yang diluncurkan, selain aneka bom yang lain. Sementar itu, di darat ribuan pasukan koalisi masuk wilayah Irak dari berbagai penjuru, menumpang armada mesin perang yang siap menghancurkan apa saja. Dalam agresi militer yang dilakukan AS dan sekutunya kali ini Saddam mendapatkan tekanan yang luar biasa. Dalam serangannya, AS langsung mebidiknya. Menteri pertahanan AS, Donald Rumsfled pada Maret 2003 di Warsawa, Polandia mengatakan bhawa AS hanya memusatkan perhatian pada Saddam. Sebagian warga dunia yang diprovokasi AS dan sekutunya yakin bahwa Saddam sedang menghadapi hari-hari terakhir kekuasaannya. (NS Mahmud dkk, 2007 : 32-33)

Pasukan gabungan pimpinan AS begitu mudah masuk ke Baghdad, nyaris tanpa perlawanan. Dugaan banyak pihak sebelumnya bahwa saat mereka masuk Baghdad akan terjadi pertempuran kota yang bergitu sengit dan dahsyat juga tidak menjadi kenyataan. Yang terjadi justru sebaliknya, invasi pasukan gabungan pimpinan AS itu mencapai puncaknya dengan menjatuhkan patung Saddam Hussein setinggi 15 meter yang terbuat dari perunggu. Apa yang terjadi di irak tersebut mengejutkan negara-negara di kawasan Teluk dan timur Tengah. Tragedi di Irak itu membuat banyak negara cemas. Karena bisa jadi apa yang terjadi di Irak itu akan mendorong Bush dengan mudah mengerahkan tentarannya untuk memenuhi ambisinya menyingkirkan apa yang menurutnya menjadi ancaman. Bush juga menegaskan bahwa AS harus menjadi kekuatan satu-satunya di dunia yang bertanggung jawab atas keamanan dunia. (Budiarto Shambazy, 2003 : 182-183)

Saddam Hussein ditangkap di sebuah banker di kota Tikrit, daerah kelahirannya pada 13 Desember 2003. Sebelum ditangkap, ia berpindah-pindah tempat di berbagai istana dan bunker yang dibangun sebelumnya, salah satu istananya dapat menampung 10 ribu orang dalam satu kompleks. Dengan menggunakan terowonganpeghubung, ia bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Saddam mengalami paranoid. Sejak saat itu Saddam di penjara di sebuah penjara militer AS dekat Baghdad. (NS Mahmud dkk, 2007 : 37)

Dalam pengakuannya, AS selalu mengatakan bahwa serangannya ke Irak untuk menegakkan demokrasi, tetapi setelah rezim Saddam Hussein jatuh AS akan kesulitan membangun pemerintahan baru yang demokratis. Hal ini disebabkan : prinsip AS sendiri tidak demokratis, melainkan berdasar pada kepentingan politiknya, yaitu mencega hmunculnya penguasa penentang atau berafiliasi dengan negara yang menjadi musuh AS; pemimpin yang dipilih AS untuk memimpin Irak tidak mempunyai basis pendukung yang kuat di kalangan rakyat.

Banyak orang yang memandang bahwa serangan AS terhadap Irak merupakan cerminan politik standar ganda AS. Di satu sisi membiarkan Israel memiliki senjarta pemusnah massal dan membangun reaktor nuklir, tetapi di sisi lain menjatuhkan Irak yang dicurigai memiliki senjata pemusnah massal. AS membela diri dengan menyatakan bahwa serangan terhadap Irak tersebut sah dan pantas karena Irak mengingkari ketentuan PBB. (Sumargono, 2010 : 75, Skripsi)

Kebijakan politik AS terhadap Irak saat penyerangan, dapat disimpulkan menjadi empat butir. Pertama kembalinya tim inspeksi PBB tanpa syarat ke Irak untuk melanjutkan misinya menghancurkan sama sekali potensi Irak mengembangkan kembali senjata kimia, biologi, dan nuklir. Kedua tidak ada perundingan dan komproni dengan Saddam Hussein. Ketiga tidak ada jamninan pencabutan sanksi atas Irak meskipun Bgahdad mengizinkan tim onspeksi PBB kembali lagi. Keempat, menggusur kekuasaan Saddam Hussein dan menggantinya dengan pemerintahan yang lebih loyal pada Barat, seperti skenario Afghanistan. (Mustafa Abd. Rahman,2003 : 37)

Menurut menteri Pertahanan AS donald Rumsfeld, tujuan invasi militer ke Irak adalah :

 Mengakhiri pemerintahan Saddam Hussein dan membantu Irak transisi menjadi negara demokratis

 Menemukan dan menghancurkan senjata pemusnah massal, program senjata dan teroris

 Mengumpulkan data intelijen mengenai jaringan senjata pemusnah masal dan teroris

 Mengakhiri sanksi embargo dan memberikan bantuan kemanusiaan

 Menagamnakan ladang-ladang minyak dan sumber daya alam minyak.

Saddam Hussein mengakhiri hidupnya dalam usia 69 tahun, delapan bulan, 22 jam setelah dieksekusi. Saddam Hussein dimakamkan di desa kelahirannya, Awja, Tikrit, 31 Desember 2006 pukul 04.00 pagi waktu setempat. Sejak eksekusi sampai pemakamannya, demonstrasi di berbagai penjuru dunia terus berlangsung untuk mengutuk eksekusi hukuman gantung terhadap Saddam.

C. Dampak Penyerangan Amerika Serikat di Irak

Tumbangnya patung Saddam Hussein setinggi 15 meter yang terbuat dari perunggu secara simbolis melambangkan runtuhnya rezim Saddam Hussein. Perang telah dinyatakan selesai oleh Bush dan selanjutnya irak jatuh ke tangan pasukan pendudukan pimpinan AS. Setelah tumbangnya Saddam, Irak memasuki babak baru yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dari perang yang berlangsung selam 43 hari ini dapat dikatakan bahwa irak mengalami kekalahan. AS telah berhasil menjatuhkan rezim Saddam dan membentuk pemerintahan baru di Irak yang dijanjikan demokratis. (Sumargono, 2010 : 96)

 Dalam bidang sosial

Meletusnya perang saudara di Irak sendiri, khususnya pendukung Saddam dan kelompok yang kontra Saddam. Latar belakang permusuhan antara kedua kelompok ini sebenarnya sudah ada sebelumnya, namun lebih memanas ketika rezim Saddam jatuh.

Hal tersebut menimbulkan adanya konflik internal di dalam masyarakat sendiri. Pertama yaitu perang saudara antara kelompok Sunni dan Syiah, yang terbukti dengan terbunuhnya Abdul Majid al-Khui (putra dari tokoh Syiah). Hal ini akan terus berlanjuut sampai ada kebijakan politik dan sosial yang akan meredam permusuhan mereka, yang datangnya dari pihak pemerintah yang menjadi alat untuk mendamaikan kedua belah kelompok.

Dari segi peradaban dan pergeseran nilai jelas akan mengalami perubahan yang signifikan diakarenakan akan ada pemerintah baru yang akan mengeluarkan kebijakan baru untuk pembangunan kembali Irak pasca invasi. Peradaban irak di masa depan akan lebih terbuka dan demokratis dibanding pada masa Saddam yang selalu lebih mengutamakan perang sebagai alat menegakkan kehormatan bangsa Irak di mata internasional.

 Dalam bidang ekonomi

Irak banyak mengalami kerugian ekonomi setelah terjadi perang ini. Hal ini diakibatkan oleh hancurnya infrastruktur yang dimiliki. Kehancuran terjadi pada gedung-gedung pemerintah, rumah sakit, pemukiman penduduk, jalan-jalan, pusat perdagangan serta tempat umum lainnya. Keuntungan yang di dapat hanyalah dari dicabutnya sanksi embargo ekonomi yang telah lama dialami Irak sejak Perang Teluk II.

Irak terkenal dengan banyak ladang minyak yang menduduki posisi kedua setelah Arab Saudi. Masalah minyak inilah yang menjadi faktor utama perhatian dunia terhadap Irak. Hingga akhir Maret 2003 tercatat cadangan minyak di Irak mencapai 11,26 miliar barel atau merupakan cadangan terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi yang diatas 200 milia barel.

Minyak menjadi pendapatan utama pemerintah Irak yakni 95 % lainnya dari perdagangan umum dan wisata. Setiap tahunnya Irak memperoleh pendaapatan 22 miliar dollar AS dari minyak.

 Dampak bidang Politik

Serangan AS di Irak banyak menyebabkan kehancuran terjadi di Irak. Runtuhnya Saddam tidak membuat serta merta Irak menjadi aman dan damai. Hal ini menimbulkan suatu kekosongan kekuasaan yang menimbulkan adanya manifesto politik yang chaotik dan kadang-kadang berakhir dengan kerusuhan.

Tumbangnya rezim Saddam juga mampu memberikan harapan baru terhadap bangkitnya kembali gerakan politik Syiah Irak yang telah sekian lama tertindas di bawah pemerintah Saddam Hussein. Timbulnya harapan untuk mendapat tempat di dalam tatanan pemerintah yang baru.

Melihat perkembangan Irak pasca Saddam Hussein, dapat disimpulkan bahwa tantangan yang dihadapi AS dan sekutunya pasca perang sangat berat. Kenyataan di lapangan memperlihtkan bahwa pasukan pendudukan tidak dapat sepenuhnya menciptakan stabilitas, keamanan. Kelompok-kelompok oposisi yang sebelumnya telah menjalin hubungan erat dengan AS, tidak mengingkan para pejabat AS memainkan peran yang lebih besar dalam mengelola pemerintahan pasca perang. Kelompok ini kemudian menyatakan bahwa orang-orang Irak kompeten dan mampu untuk mebangnun Irak kembali.

Harapan rakyat Irak untuk membangun kembali Irak tanpa bantuan asng tidak terwujud, karena AS telah mempunyai skenario dan rencana sendiri dalam Irak.

Setelah runtuhnya Saddam Hussein yang disusul dengan pembentukan Dewan Pemerintah Sementara ternyata muncul perlawanan-perlawanan bersenjata. Berbagai kelompok bersenjata bermunculan bahkan sampai pada hari penyerahan kedaulatan rakyat Irak oleh AS ke Irak tanggal 28 Juni 2004. Setelah penyerahan kedaulatan, rakyat masih harus kecewa karena tentara pendudukan masih belum juga angkat kaki dari Irak, dengan dalih untuk menumpas aksi kelompok bersenjata Irak.

Tentara pendudukan tidak begitu saja meninggalkan Irak bahkan samapi diadakan pemilu di Irak pada hari Minggu, 30 Januari 2005. Tentara pendudukan tetap bercokol di Irak dan kelompok-kelompok bersenjata melakukan perlawanan. Aksi penyerangan dan bom bunuh diri masih terus terjadi hingga perlawanan terhadap pasukan pendudukan. Aksi ini tidak hanya mengancam tentara pendudukan tetapi juga mengancam warga sipil Irak. Baku tembak yang terjadi mengakibatkan sulitnya keamanan terwujud, meski pemerintah yang baru sudah terbentuk. Selama pasukan pendudukan masih ada di Irak maka kelompok-kelompok bersenjata masih terus beraksi dan selam itu pula rakyat Irak masih juga jauh dari rasa aman.

DAFTAR REFERENSI :
Akhmad Iqbal. 2010. Perang-Perang Paling Berpengaruh di Dunia. Yogyakarta : Galang Press
Budiarto Shambazy. 2003. Obrak-Abrik Irak. Jakarta : Kompas
Mustafa Abd. Rahman. 2003. Geliat Irak Menuju Era Pasca Saddam. Jakarta : Kompas
Nur Ika Hening Wijayanti. 2006. Intervensi Amerika Serikat terhadap Irak dalam Perang Teluk III tahun 2003. Skripsi. FKIP. UNS
NS Mahmud dkk. 2007. Detik-Detik Kematian Saddam Husein. Yogyakarta : An Naba’
Sumargono. 2010. Irak Setelah Jatuhnya Rezim Saddam Hussein Tahun 2003-2005. Skripsi. FKIP. UNS